Monday, May 30, 2016

TUGAS KELOMPOK ILMU BUDAYA DASAR - 2

Anggota  :

-  Alisar Akbar P                               1B115157
-  Hendy                                            1B115158
-  Shinta Anggari Ayuningtyas           1B115156


MANUSIA DAN KEADILAN

A. PENGERTIAN KEADILAN


      Menurut Aristoteles keadilan adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah diantara ke dua ujung yang ekstrem yang terlalu banyak dan terlalu sedikit. Kedua ujung trsebut menyangkut dua orang atau benda. Bila kedua orang tersebut mempunyai kesamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan, maka masing-masing orang harus memperoleh benda atau hasil yang sama. Kalau tidak sama , maka masing-masing orang akan menerima bagian yang tidak sama. Dan pelanggaran terhadap proporsi tersebut disebut ketidakadilan.

B. KEADILAN SOSIAL


    Berbicara tentang keadilan, anda tentu ingan akan dasar Negara kita pancasila sila kelima pancasila berbunyi “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”Panitia ad-hoc majelis permusyawaratan rakyat sementara 1966 memberikan perumusan sebagai berikut :

“Sila keadilan sosial mengandung prinsip bahwa setiap orang di Indonesia akan mendapat perlakuan yang adil dalam bidang hukum,politik,ekonomi dan kebudayaan”.

Selanjutnya untuk mewujudkan keadilan sosial itu, diperinci perbuatan dan sikap yang perlu dipupuk, yakni :

1. Perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
2. Sikap adil terhadap sesama, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban serta menghormati hak-hak orang lain.
3. Sikap suka memberi pertolongan kepada orang yang memerlukan
4. Sikap suka bekerja keras
5. Sikap menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan bersama.

Keadilan dan ketidak adilan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia karena dalam hidupnya manusia menghadapu keadilan/ ketidak adilan setiap hari.Oleh karena itu keadilan dan ketidak adilan, menimbulkan daya kreativitas manusia. Banyak hasil seni lahir dari imajinasi ketidak adilan, seperti drama, puisi, novel, music, dan lain-lain.

C. BERBAGAI MACAM KEADILAN


      a. Keadilan Legal atu Keadilan Moral
Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari masayarakat yang membuat dan menjaga kesatuanya. Dalam suatu masyarakat yang adil setipa orang menjalankan pekerjaan yang menurut sifat dasarnya paling cocok baginya (Tha man behind the gun).

      b. Keadilan distributif
Aristoteles berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama dipertaruhkan secara sama dan hal-hal yang tidak sama (justice is done when equals are treated equally).

      c. Keadilan komulatif
Keadilan ini bertujuan memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum. Bagi aristoteles pengertian keadilan itu merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrem menjadikan ketidakadilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat.

D. KEJUJURAN


Kejujuran atau jujur artinya apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya apa yang di katakana sesuai dengan kenyataan yang ada.sedang kenyataan yang ada itu adalah kenyataan yang benar-benar ada.Jujur juga berarti seseorang bersih hatinya dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dan hukum.

Orang bodoh yang berarti jujur adalah lebih baik daripada orang pandai yang lancing.Pada hakekatnya jujur atau kejujuran di landasi oleh kesadaran moral yang tinggi kesadaran pengakuan akan adanya sama hak dan kewajiban,serta rasa takut terhadapa kesalahan atau dosa.


E. KECURANGAN


Kecurangan atau curang identik dengan ketidakjujuran atau tidak jujur, dan sama pila dengan licik, meskipun tidak serupa.Sudah tentu kecurangan sebagai lawan jujur. Curang atau kecurangan artinya apa yang diinginkan tidak sesuai dengan hati nuraninya.Bermacam-macam sebab orang melakukan kecurangan Di tinjau dari hubungan manusia dengan alam sekitar,ada empat aspek ekonomi,aspek kebudayaan,aspek peradapan,dan aspek teknik.Apabila ke empat aspek itu tersebut dilaksankan secara wajar,maka segalanya akan berjalan sesuai dengan norma-norma moral atau norma hukum.

F. PEMULIHAN NAMA BAIK


Nama baik merupakan tujuan utama orang hidup. Nama baik adalah nama yang tidak tercala, setiap orang menjaga dengan hati-hati agar namanya tetap baik. Lebih-lebih jika ia menjadi teladan bagai orang/tetangga disekitarnya adalah suatu kembanggaan batin yang tak ternilai harganya.

Penjagaan nama baik erat hubungannya dengan tingkah laku atau perbuatan. Atau boleh di katakan nama baik atau tidak baik itu adalah tingkah laku atau perbuatannya.

Tingkah laku atau perbuatan yang baik dengan nama baik itu pada hakekatnya sesuai dengan kodrat manusia, yaitu :

      a)  Manusia menurut sifat dasaranya adalah mutlak makhluk moral.
      b)  Ada aturan-aturan yang berdiri sendiri yang dipaatuhi untuk mewujudkan dirinya sendiri sebagai pelaku moral tersebut.

Pada hakekatnya, pemulihan nama baik adalah kesadaran manusia akan segala kesalahannya : bahwa apa yang diperbuatnya tidak sesuai dengan ukuran moral atau tidak sesuai dengan ahlak.

G. PEMBALASAN


Pembalasan ialah suatu reaksi atas perbuatan orang lain.reaksi itu dapat berupa perbuatan serupa yang seimbang, tingkah laku yang serupa,tingkah laku yang seimbang. Pemnalasan di sebabkan oleh adanya pergaulan. Pergaulan yang bersahabat mendapatkan balasan yang bersahabat, Sebaliknya pergaulan yang penuh kecurigaan menimbulkan balasan yang tidak bersahabat pula. Pada dasarnya,manusia adalah moral dan mahluk sosial.dalam bergaul manusia harus mematuhi norma-norma untuk mewujudkan moral itu.

Studi Kasus


KOMPAS.com - Jauh sebelum kasus "sandal jepit" merebak, penyanyi kondang Iwan Fals sudah teriak-teriak soal sandal jepit dalam syair lagunya "Besar dan Kecil". Iwan menganalogikan rakyat kecil seperti jendal jepit yang selalu terjepit, diremehkan, lemah, selalu kalah. Seperti sandal jepit, begitulah kenyataan masyarakat kecil jika harus berurusan dengan hukum.

Tidak perlu menutup mata karena kenyataan itu ada di depan mata kita. Aparat negeri ini terkesan lebih suka menjepit rakyat kecil yang sudah biasa menjerit karena ketidakadilan di negeri ini. Mereka terkesan lebih senang membela pejabat dengan kekayaan berlipat, dibandingkan rakyat kecil yang biasa hidup melarat.

Mau bukti? Tengoklah kasus Nenek Minah (55) asal Banyumas yang divonis 1,5 tahun pada 2009, hanya karena mencuri tiga buah Kakao yang harganya tidak lebih dari Rp 10.000. Bahkan, untuk datang ke sidang kasusnya ini Nenek yang sudah renta dan buta huruf itu harus meminjam uang Rp 30.000 untuk biaya transportasi dari rumah ke pengadilan yang memang jaraknya cukup jauh.

Yang paling anyar, kasus pencurian sandal jepit yang menjadikan AAL (15) pelajar SMK 3, Palu, Sulawesi Tengah, sebagai pesakitan di hadapan meja hijau. Ia dituduh mencuri sandal jepit milik Briptu Ahmad Rusdi Harahap, anggota Brimob Polda Sulteng. Hanya gara-gara sandal jepit butut AAL terancam hukuman kurungan maksimal lima tahun penjara.

Proses hukum atas AAL pun tampak janggal. Ia didakwa mencuri sandal merek Eiger nomor 43. Namun, bukti yang diajukan adalah sandal merek Ando nomor 9,5. Selama persidangan tak ada satu saksi pun yang melihat langsung apakah sandal merek Ando itu memang diambil AAL di depan kamar Rusdi.

Di persidangan, Rusdi yakin sandal yang diajukan sebagai barang bukti itu adalah miliknya karena, katanya, ia memiliki kontak batin dengan sandal itu. Saat hakim meminta mencoba, tampak jelas sandal Ando itu kekecilan untuk kaki Rusdi yang besar.

AAL memang dibebaskan dari hukuman dan dikembalikan kepada orangtuanya. Namun, majelis hakim memutus AAL bersalah karena mencuri barang milik orang lain.

OPINI  :

Dari kasus diatas bisa dibilang keadilan di Indonesia sungguh rendah. Memang belum terbukti benar dari kasus diatas siapa yang benar-benar terdakwa akan tetapi seharusnya hal seperti ini jika dilihat dari kasus pencurian lain dengan skala besar seperti koruspsi seharusnya mendapatkan hukuman yang lebih setimpal. Memang benar adanya jika suatu pencurian tergolong sebagai tindak pidana, namun semua itu juga harus dilihat dari kadar pencuriannya. Tidak adil memang jika mencuri sandal seharga puluhan ribu dengan dengan mencuru uang miliaran hukumannya sama atau bahkan mungkin lebih rendah hukuman bagi para koruptor.

Seharusnya keadilan lebih ditingkatkan ke semua bidang dan tanpa pandang bulu, agar kiranya semua manusia yang ada di Indonesia bias merasakan keadilan yang murni dan sesungguhnya. Marilah kita selalu junjung hokum dan keadilan agar tercipta keharmonisan di seluruh Indonesia.




Sumber   :

http://jeffryzakaria.blogspot.co.id
http://nasional.kompas.com/read/2012/01/06/09445281/Kejamnya.Keadilan.Sandal.Jepit.

Monday, April 18, 2016

TUGAS INDIVIDU ILMU BUDAYA DASAR


Harapan untuk Diri Sendiri di Masa Sekarang dan Masa Depan



     Hidup adalah perjalanan dari adanya sebuah harapan. Harapan, ya suatu hal yang selalu ada dalam setiap langkah kehidupan manusia, tak terkecuali kita. Ada yang mengatakan harapan adalah sebuah keinginan, ada yang mengatakan harapan adalah impian, ada juga yang mengatakan harapan adalah sebuah usaha yang diiringi dengan doa untuk mencapai tujuan tertentu, dan masih banyak lagi. Harapan adalah bentuk dasar dari kepercayaan akan sesuatu yang diinginkan akan didapatkan atau suatu kejadian akan bebuah kebaikan di waktu yang akan datang. Harapan akan selalu membawa motivasi untuk kita melangkah satu persatu. Harapanlah yang menjadikan kita mampu bertahan melewati situasi sulit hingga saat ini. Sebuah langkah mudah dalam membangun harapan adalah sebuah keyakinan.
     Tentu setiap manusia mempunyai harapan untuk dirinya masing-masing. Disini, harapan untuk diri sendiri mengenai masa sekarang dan masa depan saya yaitu, menjadi manusia yang jauh lebih baik lagi dari sebelumnya. Lebih baik dalam hal seperti sikap, perkataan, perbuatan, dsb. Selain itu, harapan saya selanjutnya yaitu menjadi orang yang rajin, ingin menjadi orang yang sukses dan dapat membahagiakan orang tua, contohnya seperti : rajin mengejar pendidikan, fokus belajar agar saya lulus tepat waktu dan mendapat kemudahan dalam mencari pekerjaan di masa yang akan datang dan mulai menabung untuk masa depan.


Harapan untuk Anak Muda di Indonesia


     Harapan yang pertama yaitu jangan mudah terpengaruh pada perkembangan jaman/trend yang dari tahun ke tahun berubah dan harus bisa lebih pandai, memilah mana yang pantas untuk diikuti dan mana yang tidak pantas untuk diikuti. Karena trend jaman sekarang banyak yang mengandung pembodohan anak-anak muda yang terlalu gampang mengikuti perkembangan jaman yang semestinya tidak pantas untuk diikuti. Harapan selanjutnya semoga anak muda di Indonesia lebih bisa berguna bagi Nusa, Bangsa dan Negara dengan mengikuti lomba-lomba tentang pelajaran atau olimpiade, seperti; olimpiade IPA contohnya.


Sunday, April 17, 2016

TUGAS KELOMPOK ILMU BUDAYA DASAR - 4KA49


Anggota :

# Achmad Arifin                            1B115215

# Indra Dwiguna                            1B115214

# Linda Jayanti                              1B115151

# Shinta Anggari Ayuningtyas     1B115156



Nilai-nilai Dalam Tradisi Pernikahan Adat Bali

Tahapan dan Pelaksanaan UpacaraAdat Bali

• Menentukan Hari Baik
      Setelah sebelumnya keluarga calon mempelai pria datang untuk meminang atau dalam bahasa edua belah pihak keluarga beranjak untuk memilih waktu yang tepat untuk menikahkan kedua putra putri mereka. Warga Bali yang sangat religius, mempercayai hari baik untuk melaksanakan pernikahan. Dimana hari baik yang telah disepakati tersebut, menjadi hari bagi calon mempelai wanita untuk dijemput dan dibawa ke rumah calon mempelai pria.

• Upacara Ngekeb
     Sama halnya dengan ritual siraman pada adat Jawa, dalam adat pernikahan Bali pun mempunyai tradisi demikian. Perbedaannya, sebelum siraman, calon mempelai wanita dilulurkan oleh ramuan yang terbuat dari daun merak, kunyit, bunga kenanga dan beras yang telah ditumbuk halus, serta air merang untuk keramas. Persiapan ini sebagai bentuk menyambut hari pernikahan keesokan harinya. Selain persiapan secara lahiriah, mental atau batin pun perlu persiapan dengan memperbanyak doa kepada Sang Hyang Widhi agar menurunkan kebahagiaan dan anugerah-Nya. Dalam menjalani ritual ngekeb, calon mempelai wanita dilarang untuk keluar dari kamar mulai sore hari hingga keluarga calon mempelai pria datang menjemput.

• Penjemputan Calon Mempelai Wanita
     Sesuai tradisi, perayaan pernikahan tidak diadakan di kediaman pihak wanita seperti kebanyakan daerah, tetapi dilaksanakan di kediaman pihak laki-laki. Itu sebabnya mengapa calon mempelai wanita dijemput. Namun, sebelum dijemput untuk dibawa, calon mempelai wanita telah diselimuti kain kuning tipis mulai dari ujung rambut hingga kaki. Kain kuning yang membungkus calon mempelai wanita diibaratkan bahwa mempelai wanita telah siap mengubur masa lalunya sebagai lajang untuk menyongsong kehidupan baru, kehidupan berumah tangga.

• Mungkah Lawang (Buka Pintu)
      Sedikit mirip dengan upacara buka pintu dalam adat Sunda, perbedaannya terletak pada orang yang mengetuk pintu. Jika dalam tradisi Sunda orang yang mengetuk pintu calon mempelai prianya, tetapi dalam adat Bali ada seorang utusan yang disebut mungkah lawang yang bertugas mengetuk pintu kamar calon mempelai wanita sebanyak tiga kali. Kedatangan mempelai pria juga dipertegas dengan tembang yang dinyanyikan utusan mempelai pria (malat). Syair yang ditembangkan berisikan tentang kehadiran mempelai pria untuk menjemput mempelai wanita. Kemudian tembang balasan yang dilantunkan malat dari pihak wanita terdengar yang mengatakan bahwa mempelai wanita telah siap untuk dijemput. Mendapat lampu hijau, calon mempelai pria pun membuka pintu setelah diizinkan dan dipersilakan oleh keluarga pihak wanita. Calon mempelai wanita digendong menuju tandu untuk segera dibawa ke kediaman keluarga pria tanpa didampingi kedua orang tua mempelai wanita, tetapi seorang utusan ditunjuk untuk menyaksikan upacara pernikahan.

• Upacara Mesegehagung
      Ritual mesegehagung merupakan upacara khusus menyambut mempelai wanita. Setibanya di kediaman mempelai pria, kedua mempelai diturunkan dari tandu untuk bersiap menghadapi prosesi mesegehagung. Sekali lagi, kedua mempelai ditandu menuju kamar pengantin. Kain kuning yang masih menyelimuti tubuh mempelai wanita akan dibuka oleh ibu calon mempelai pria dan ditukar dengan uang kepeng satakan (kepeng sebutan untuk mata uang pada masa lampau) senilai dua ratus kepeng.

• Mekala-Kalaan (Madengen-Dengen)
      Dengan dipandu oleh pendeta Hindu, prosesi mekala-kala dimulai tepat saat bunyi genta bergema. Pelaksanaan mekala-kala harus sesuai dengan tahapan-tahapan berikut ini  :
      
         - Menyentuhkan Kaki pada Kala Sepetan 
           Upacara mekala-kala bertujuan untuk menyucikan dan membersihkan diri kedua mempelai. Mempelai pria memikul tegen-tegenan sementara mempelai wanita membawa bakul perdagangan, lalu keduanya berputar sebanyak tiga kali mengelilingi sanggar pesaksi, kemulan, dan penegteg. Keduanya diwajibkan menyentuhkan kaki pada kala sepetan.

         - Jual Beli
           Bakul yang dibawa oleh calon mempelai wanita tersebut kemudian akan dibeli oleh calon mempelai pria. Kegiatan tersebut merupakan analogi dari kehidupan berumah tangga yang harus saling melengkapi, memberi dan mengisi, hingga meraih tujuan yang diinginkan.

         - Menusuk Tikeh Dadakan
            Calon mempelai wanita telah bersiap memegang anyaman tikar yang terbuat dari daun pandan muda (tikeh dadakan). Sedangkan calon mempelai pria memegang keris, siap menghunuskan tikeh dadakan dengan kerisnya. Menurut kepercayaan umat Hindu, tikeh dadakan yang dipegang calon mempelai wanita menyimbolkan kekuatan Sang Hyang Prakerti (kekuatan yoni), dan keris milik calon mempelai pria perlambangan dari kekuatan Sang Hyang Purusa (kekuatan lingga).

         - Memutuskan Benang          
           Sebelum memutuskan benang, kedua mempelai bersama-sama menanam kunyit, talas dan andong tepat di belakang merajan atau sanggah (tempat sembahyang keluarga), sebagai wujud melanggengkan keturunan keluarga. Baru setelah itu, memutuskan benang yang terentang pada cabang dadap (papegatan) yang menganalogikan bahwa kedua mempelai siap menanggalkan masa remaja untuk memulai hidup berkeluarga.

• Upacara Mewidhi Widana (Natab Banten Beduur)
     Pelaksanaan prosesi ini berlangsung di dalam pura keluarga pihak pria yang dipimpin langsung oleh pemangku sanggah serta diantar pinisepuh. Diselimuti suasana syahdu, kedua mempelai berdoa menyampaikan kehadiran keluarga baru kepada leluhur untuk melanjutkan keturunannya.

• Upacara Mejauman (Ma Pejati)
     Dalam aturan adat Bali, wanita yang sudah menikah akan mengikuti suaminya. Maka, untuk menghormati leluhur keluarga, diadakan upacara untuk memohon pamit kepada leluhur mempelai wanita yang disebut upacara mejauman. Kedatangan mempelai wanita untuk menjalani upacara tersebut didampingi keluarga mempelai pria yang membawa serta berbagai penganan tradisional berwarna putih dan merah, kue bantal, apam, sumping, kuskus, wajik, gula, kopi, buah-buahan, lauk-pauk dan lain sebagainya.

Simbol-simbol upacara adat Bali

1.  Sanggah Surya
       Di sebelah kanan digantungkan biyu lalung dan di sebelah kiri sanggah digantungkan sebuah kulkul berisi berem. Sanggah Surya merupakan niyasa (simbol) stana Sang Hyang Widhi Wasa, dalam hal ini merupakan stananya Dewa Surya dan Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih. 
       Biyu lalung adalah simbol kekuatan purusa dari Sang Hyang Widhi dan Sang Hyang Purusa ini bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Jaya, sebagai dewa kebajikan, ketampanan, kebijaksanaan simbol pengantin pria.
       Kulkul berisi berem simbol kekuatan prakertinya Sang Hyang Widhi dan bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Ratih, dewa kecantikan serta kebijaksanaan simbol pengantin wanita.

2.  Kelabang Kala Nareswari (Kala Badeg)
        
Simbol calon pengantin, yang diletakkan sebagai alas upakara mekala-kalaan serta diduduki oleh kedua calon pengantin.


3.  Tikeh Dadakan (tikar kecil) & Keris          
        Tikeh dadakan diduduki oleh pengantin wanita sebagai simbol selaput dara (hymen) dari wanita. Kalau dipandang dari sudut spiritual, tikeh dadakan adalah sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Prakerti (kekuatan yoni) dan Keris sebagai kekuatan Sang Hyang Purusa (kekuatan lingga) calon pengantin pria.
4.  Keris

        Keris sebagai kekuatan Sang Hyang Purusa (kekuatan lingga) calon pengantin pria. Biasanya nyungklit keris, dipandang dari sisi spritualnya sebagai lambang kepurusan dari pengantin pria

5.  Benang Putih
       Dalam mekala-kalaan dibuatkan benang putih sepanjang setengah meter, terdiri dari 12 bilahan benang menjadi satu, serta pada kedua ujung benang masing-masing dikaitkan pada cabang pohon dapdap setinggi 30 cm. 
       Angka 12 berarti simbol dari sebel 12 hari, yang diambil dari cerita dihukumnya Pandawa oleh Kurawa selama 12 tahun. Dengan upacara mekala-kalaan otomatis sebel pengantin yang disebut sebel kandalan menjadi sirna dengan upacara penyucian tersebut.
       Dari segi spiritual benang ini sebagai simbol dari lapisan kehidupan, berarti sang pengantin telah siap untuk meningkatkan alam kehidupannya dari Brahmacari Asrama menuju alam Grhasta Asrama.

6.  Tegen - tegenan
        Makna tegen-tegenan merupakan simbol dari pengambil alihan tanggung jawab sekala dan niskala. Adapun perangkat tegen-tegenan ini  :
-  Batang tebu berarti hidup pengantin artinya bisa hidup bertahap seperti hal tebu ruas demi ruas, secara manis.
-  Cangkul sebagai simbol Ardha Candra. Cangkul sebagai alat bekerja, berkarma berdasarkan Dharma
-  Periuk simbol windhu
-  Buah kelapa simbol brahman (Sang Hyang Widhi)
-  Seekor yuyu simbol bahasa isyarat memohon keturunan dan kerahayuan.





7.  Suwun-suwunan (sarana jinjingan)
       Berupa bakul yang dijinjing mempelai wanita yang berisi talas, kunir, beras dan bumbu-bumbuan melambangkan tugas wanita atau istri mengembangkan benih yang diberikan suami, diharapkan seperti pohon kunir dan talas berasal dari bibit yang kecil berkembang menjadi besar.

8.  Dagang-dagangan
        Melambangkan kesepakatan dari suami istri untuk membangun rumah tangga dan siap menanggung segala Resiko yang timbul akibat perkawinan tersebut seperti kesepakatan antar penjual dan pembeli dalam transaksi dagang.


9.  Sapu lidi (3 lebih). 
       Simbol Tri Kaya Parisudha. Pengantin pria dan wanita saling mencermati satu sama lain, isyarat saling memperingatkan serta saling memacu agar selalu ingat dengan kewajiban melaksanakan
Tri Rna, berdasarkan ucapan baik, perilaku yang baik dan pikiran yang baik, disamping itu memperingatkan agar tabah menghadapi cobaan dan kehidupan rumah tangga.

10.  Sambuk Kupakan (serabut kelapa)
          Serabut kelapa dibelah tiga, di dalamnya diisi sebutir telor bebek, kemudian dicakup kembali di luarnya diikat dengan benang berwarna tiga (tri datu). Serabut kelapa berbelah tiga simbol dari Triguna (satwam, rajas, tamas). Benang Tridatu simbol dari Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) mengisyaratkan kesucian. Telor bebek simbol manik. Kedua Mempelai saling tendang serabut kelapa (metanjung sambuk) sebanyak tiga kali, setelah itu secara simbolis diduduki oleh pengantin wanita. Ini mengandung pengertian.  Apabila mengalami  perselisihan agar bisa saling mengalah, serta secara cepat di masing-masing individu menyadari langsung. Selalu ingat dengan penyucian diri, agar kekuatan triguna dapat terkendali. Selesai upacara serabut kalapa ini diletakkan di bawah tempat tidur mempelai.

11.  Tetimpug
         adalah bambu tiga batang yang dibakar dengan api dayuh yang bertujuan memohon penyupatan dari Sang Hyang Brahma.


Sumber  :